Creepy Story: Helena

Pada malam jumat aku pulang malam dari rumah temanku, sekitar jam sebelas malam aku baru sampai gerbang komplek dan dari gerbang komplek ke rumahku butuh waktu kurang lebih sepuluh menit.

Pada malam itu nampak aneh, aku tidak sadar dan berada di jalan yang salah untuk sampai ke rumahku. Aku melewati rumah tua yang sangat megah dan masih bagus, aku melihat seorang perempuan memakai dress merah berdiri di depan pagar rumah itu sambil menangis, aku sempatkan diri untuk berhenti dan menanyakan keadaan perempuan tersebut.

“Hay, kok kamu malem-malem nangis di depan gerbang? kamu dikonciin ya?”

Perempuan itu membalik wajahnya ke arahku dan aku langsung terpesona dengan wajahnya yang sangat cantik, dalam keadaannya yang sedang menangis pun dia terlihat tetap cantik.

Helena namanya dan dia memelukku lalu menceritakan masalahnya bahwa dia sangat sedih karena kini dia sudah tidak dianggap anak lagi oleh orangtuanya, itu semua karena dia sedang hamil 3 bulan dan pria yang telah menghamilinya malah pergi dan menghilang.

“Terus kamu gimana dong? masa kamu terus-terusan di luar?”

“Aku mau disini saja sampai orangtua aku bukain gerbang ini untuk aku”

“Kamu ikut aja ke rumah aku, besok pagi aku anterin pulang”

“Terimakasih tapi aku mau disini saja”

“Tapi ini udah malem banget, nanti kamu kenapa-napa”

“Aku sudah biasa kok”

“Ha? maksudnya?”

“Sudah, kamu pulang saja. besok malam kalau ada waktu kamu kesini lagi ya, temenin aku ngobrol”

Gadis itu tersenyum dan dia menyuruhku untuk segera pulang, mamaku juga sudah berkali-kali menelpon untuk segera pulang. Maklum, aku ini anak semata wayang dan yang pasti aku sangat dimanjakan. Sesampai di rumah aku langsung tertidur pulas, aku sangat lelah dan tubuhku terasa remuk seperti habis main pukul-pukulan.

Keesokannya aku buat alasan untuk mamaku, aku akan kerja kelompok di rumah temanku lagi dan mamaku mengijinkannya. Jam delapan malam aku pergi ke rumah tua itu tapi tidak nampak perempuan cantik yang kemarin aku lihat, lalu aku pergi ke rumah temanku yang dekat dari sana.

“Eh elo Lang, ngapain kemari? kan tugasnya udah kelar”

“Gue mau main aja ke rumah lo, emang gak boleh?”

“Boleh lah, sini masuk”

Aku berbincang-bincang dengan temanku sampai lupa waktu, ketika aku melihat jam sudah menunujukkan jam setengah dua belas. Aku langsung lekas pulang, bukan pulang maksudku tapi ke rumah tua itu untuk memastikan perempuan itu ada atau tidak.

Dan ternyata ada, dia masih memakai dress merahnya sambil duduk di depan gerbang. Ketika aku datang nampak senyumnya menyambut kedatanganku.

“Tadi aku lewat sini, tapi kamu belum ada”

Perempuan itu hanya tersenyum sambil memainkan rambut panjangnya yang sangat indah.

“Oh iya, kamu udah makan belum?”

“Sudah kok, kalau kamu?”

“Udah juga tadi di rumah, hehe. oh iya kemarin kamu sampai jam berapa dikonciinnya?”

“Papa mama belum membukakan pintunya untuk aku”

“Nah, terus kamu kemana? ke rumah temen kamu ya?” Perempuan itu hanya tersenyum

“Kamu masih sekolah ya?”
“Iya aku kelas dua SMA, kalau kamu?” Perempuan itu tersenyum lagi

“Kita berbeda sangat jauh”

“Beda? Beda umur maksud kamu? Kamu lebih tua ya dari aku?” Perempuan itu hanya senyum, lagi

“Aku suka kamu”

“Apa?”

Dia merangkul tanganku, dan malam itu benar-benar indah. Aku heran kenapa dia langsung suka denganku, apa jangan-jangan dia mau aku untuk bertanggung jawab atas kehamilannya?

Aku harus pikir berkali-kali untuk itu, memang dia sangat cantik dan aku pun suka dengannya sejak pandangan pertama tapi aku masih sekolah dan mama pasti tidak menyetujuinya, mama ingin aku sukses menjadi dokter dan baru diijinkan untuk menikah.

Setiap malam selama seminggu aku selalu ke rumahnya dari jam sebelas sampai jam dua pagi, aku dan dia sudah seperti sepasang kekasih dan aku mulai jatuh cinta dengannya dan tidak memperdulikan kandungannya.

Selama aku pulang malam, mama tidak tahu karna aku pergi lewat jendela kamarku dan aku tidak memakai motorku melainkan jalan kaki. Walaupun lumayan jauh tapi aku usahakan untuk menemui Helena.

Singkat cerita, ketika aku dan Helena sedang berbincang-bincang sambil bercanda-canda ada dua orang hansip lewat dan heran melihatku lalu keduanya langsung berlari kencang. Helena tertawa tapi aku malah bingung.

“Kok kamu ketawa sih Len?”

“Mereka tuh lucu, setiap lewat sini pati selalu kabur”

“Kenapa? Kamu galak ya?” Perempuan itu hanya tersenyum

“Apakah kamu mau menjadi suamiku? Suami yang abadi”

Aku sangat terkejut dan tidak bisa membayangkannya ketika Helena bilang itu ke aku, aku gugup dan aku bingung.

“Kamu bisa memikirkannya dulu kok, aku kasih waktu sampai besok. kamu pulang sana, besok kan kamu harus sekolah”

Kesokannya aku cerita hal itu ke Yuda, teman dekatku yang rumahnya tidak jauh dari rumah Helena. Dia sangat tidak setuju kalau aku menikahi Helena, karena menurutnya aku sudah gila.

“Helena itu rumahnya dimana sih? Gue jadi penasaran, seberapa cantiknya sih dia?”

“Rumahnya pas belokan mau ke rumah elu, rumahnya sih keliatan tua tapi bagus dan gede banget. Helena orang tajir banget kali ya”

“Ha? Serius lo itu rumahnya?” muka Yuda shock dan sedikit pucat.

“Iya, kenapa lo Yud sampe segitu kagetnya?”

“Lo jangan kaget ya kalau gue certain tentang Helena”

Yuda menceritakan sebenarnya ke aku kalau rumah itu sudah lama tidak terisi, rumah itu memang rumah tua dan dulunya Helena serta orangtuanya tinggal disana. Tapi orangtua Helana pindah setelah Helena meninggal karena bunuh diri di depan rumahnya, Helena sengaja menabrakan dirinya oleh sebuah mobil tepat pada pukul sebelas malam.

Helena depresi karena dia hamil dan orangtuanya sangat marah sampai dia tidak diakui anak lagi, tapi pria yang menghamilinya tidak tahu kabarnya.

Aku lemas setelah mendengarkan cerita Yuda, aku rasa ini tidak mungkin terjadi. Selama ini aku berbicara dengan hantu dan aku pun pernah dipeluk sama hantu? Tidak tahu kenapa aku menangis dengan perasaan yang kacau balau. Aku pulang dan langsung memeluk mamaku, aku berjanji padanya tidak akan lagi pergi atau pulang malam.

Selepas beberapa hari, tidak sadar aku melewati rumah itu bersama papaku pada siang hari sepulang dari rumah nenekku. Pertamanya aku tidak berani menengok ke arah rumah tua itu, tapi aku penasaran lalu aku sedikit mengintipnya dengan mata setengah tertutup.

Dan, aku benar-benar terkejut pada saat itu penampilan rumah tua itu sangat tidak terawat dan banyak rumput liar yang menutupi sebagian jalanannya. Lalu aku berusaha untuk tetap rileks, ketika mobilku kira-kira sudah jauh melewati rumah tua itu aku masih penasaran dengan rumah tua itu, lalu aku melihat dari kaca spion mobilku untuk melihat rumah tua itu.

Lalu tampaklah Helena dengan gaun merahnya sambil menggerakkan tangan mengisyaratkan untuk aku menghampirinya.


Sumber: Farah Khumaira

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Admin IRC
Written by
Admin IRC
Join the discussion