Cupar Tumbal, Takdirnya Berhenti di Saya

Adzan magrib terdengar bersusulan di setiap masjid. Hingga di titik, kami bingung masjid mana yg paling nyaman untuk solat di hari itu.

Saya pamit pada istri sore itu, rencananya saya akan membantu seorang teman. Lumayan ada tambahan, saya pikir.

Rencananya, kami bertemu di tempatnya selepas isya. Karena jaraknya jauh, saya berangkat setelah magrib & solat isya di jalan nanti.

Beruntung hari itu jalanan cukup sepi dilalui, hingga ketika saya tiba bersamaan dengan adzan isya.

“Kebetulan, isya dulu lah yuk biar tenang ngerjainnya.”
Ajak teman saya.

“Oke hayu.”
Saya melepas helm & jaket, kami berjalan ke sebuah musola di belakang tempat usahanya.

20 menit kemudian kami kembali, ditempatnya sudah ada beberapa buku & 2 buah laptop untuk kami bekerja.

Beberapa jam kemudian, kami memutuskan untuk break sejenak.

“Sampe mana?”
Tanya Adit.

“Paling 10 lagi beres.”
Jawabku.

“Okelah, eh udah bilang ke istri kan bakal kesini?”
Tanyanya.

“Tenang aja.”
Jawabku.

Adit adalah teman lama saya di tempat kerja saya dulu. Berbeda dg saya yg resign, ia masih bertahan hingga kini.

Pekerjaan kam cukup sederhana. Menyusun soal dari berbagai sumber sebagai bahan evaluasi pembelajaran kursus miliknya.

Tak terasa break kami selesai, kemudian kembali mengerjakan & tepat jam 11 malam semuanya rampung.

“Besok libur kan Re? Masih ada kerjaan lain nih, bisa kesini lagi ga?” Tawarnya.

“Apaan? Besok Jum’at, jadwal aing padet, Dit.”
Jawabku.

“Eh? Masa?”
Ia mengecek hpnya.

“Si anjir lupa hari.”
Ejekku.

“Waduh, bentar ya aing tinggal dulu.”
Ia berlari ke belakang.

Saya tak menghiraukannya, sampai bau kemenyan tercium pekat dari sana.

“Dit? Sia ngapain?”
Saya penasaran & mencarinya.

Adit berada di halaman belakang, dia membakar kemenyan, membaca doa & menghamburkan sejumlah garam sambil berteriak.

“Aing didieu! Hirup keneh! Jagjag waringkas! Yeuh aing, budak cupar tumbal!”

(“Aku disini! Masih hidup! Sehat walafiat! Nih, aku si anak batal tumbal!”) Teriaknya lantang dg nada menyombongkan diri.

Cupar tumbal, kata-kata itu menjelaskan setengah dari apa yg sedang Adit lakukan. Saya menunggu hingga ia selesai untuk menanyakan cerita lengkapnya.

Saat dirinya selesai, saya menunggunya.

“Cupar tumbal? Sia ga pernah cerita soal ini.”
Todongku.

“Ya kan waktu itu kita tinggal di mess, rame-rame. Ga bisa sebebas ini.”
Jawabnya.

“Kok bisa? Sia kena tumbal apaan?”
Tanyaku.

“Pesugihan Buto ijo.”
Jawabnya singkat.

Sungguh, rasanya aneh mendengar nama pesugihan itu. Saya selalu mengira bahwa sosok Buto ijo hanya sekedar dongeng.

Maksud saya, dari sekian bentuk yg menyeramkan, kenapa harus sosok tinggi besar berwarna hijau? Mirip Hulk kan? Bukannya seram, apa tidak lucu?

Saat saya sedang memikirkan hal ini, tak sadar senyum saya lepas.

“Lucu?”
Adit kesal.

“Sorry, ga maksud. Aing kira Buto ijo itu ga ada. Kenapa harus hijau? Mirip superhero yg aing tau soalnya. Hehe.”
Saya cengengesan untuk mencairkan suasana.

“Sia kayaknya salah paham sesuatu.”
Ujarnya.

“Maksudnya?”
Saya tak paham.

“Aing tanya, wujud dedemit gimana?”
Tanyanya serius.

Saya terdiam. Setiap kisah yg bisa saya ingat, hanyalah proyeksi dari ketakutan seseorang yg ditangkap dedemit sekitar & akhirnya terjadi penampakan.

“Nah kan? Buto ijo, bukan demit sembarangan. Kalo jin biasa perlu berubah jadi wujud lain supaya bisa masuk ke alam manusia, Buto ijo bisa mempertahankan wujud aslinya buat masuk ke alam manusia.”
Jelasnya.

Saya terbelalak, apakah betul konsepnya seperti itu?

“Masa iya?”

Saya tak percaya.

“Alam jin & cara mereka itu diluar nalar. Sia pikir butuh berapa banyak orang alim atau bahkan dukun sesat buat cari tau sosok Buto ijo sebenarnya? Banyak, Re! Makhluk nista itu lebih terhina dari manapun.”
Ia melanjutkan.

Saya paham, emosi Adit tercampur dalam penjelasannya.

“Okeoke, aing paham. Kaleum dong.”
Saya berusaha mendinginkan suasana.

“Yg menderita sampe detik ini kan aing, Re. Yg cari tau soal ini sampe ujung Jawa, aing, Re. Cupar Tumbal ga sesederhana yg sia kira.”
Lanjutnya.

“Selama ini, aing pikir Cupar Tumbal sama kayak Leumpeuh Yuni.”
Jawabku.

“Yee, kalo Leumpeuh Yuni emang turunan/karena ilmu dari orangtuanya. Kalo Cupar Tumbal ya karena sudah ditandai & hampir ditumbalkan.”
Jelasnya.

“Maksudnya, aing kira keduanya sama-sama ‘wangi’ gitu.”

Ujarku.

“Oh ngga, kalo Leumpeuh Yuni diincar oleh siapa aja, kalo Cupar Tumbal cuma sama satu sosok.”
Balasnya.

“Terus sia Cupar Tumbal Buto ijo?”
Saya mengkonfirmasi.

“Iya.”
Jawabnya singkat membuat saya memahami hal lain tentang alam yg tak kasat mata.

“Bisa ceritain ga dari awal mula? Aing penasaran kenapa sia sampe bisa jadi Cupar Tumbal. Ga perlu deh penjelasan panjang-lebar soal demitnya. Aing ga bakal sampe.”
Pintaku.

“Gini nih tipikal penasaran, tapi ogah sama pemahamannya. Terserahlah, aing cerita yg sia mau tau aja.”

Di desa asalku, kebanyakan bertani/berkebun. Jika punya modal banyak, biasanya orang-orang akan membuka toko.

Semuanya berjalan lancar, hingga krisis moneter mulai mempengaruhi kehidupan desa.

Para pemilik toko yg terpengaruh lebih dulu & mengalami kerugian paling banyak.

Sebut saja pak D, pemilik toko bahan bangunan yg tokonya cukup besar di kecamatan kami tak luput dari kerugian yg menyebabkan hutangnya menggunung tak terkendali.

Ia berusaha menjual toko & rumahnya, namun di masa itu, yg mengalami kejadian yg sama bukan hanya dirinya.

Ia berusaha membujuk dg melunasi hutang-hutangnya dg toko & rumahnya sebagai ganti.

Namun hal itu ditolak, mereka lebih membutuhkan uang pasti daripada properti yg pasarnya sedang tak jelas kala itu.

Pak D kalang kabut, pikirannya kacau, ia mulai gelap.

Pesugihan menjadi jalan keluarnya. Meskipun solusi, namun nyatanya hal itu tak mudah.

Berkali-kali ia ditipu kuncen palsu, dari pawang tuyul, pesugihan putih, babi ngepet, semuanya palsu.

Hingga seorang pengemis datang ke toko & melihat wajah pak D tak karuan.

Awalnya diterima oleh kang Usep sebagai satu-satunya pegawai yg tersisa di toko itu. Namun pengemis itu akhirnya ditemui langsung oleh pak D setelah mengatakan sesuatu yg tak masuk akal.

“Saya tidak palsu, tapi tergantung majikanmu.” Katanya.

Kang Usep terperanjat.

Ia sedikit-banyak tau apa yg majikannya lakukan. Tapi janji majikannya yg akan memberikan upah lebih besar membuatnya tutup mulut.

Kang Usep segera berlari menemui pak D.

“Pak, ada pengemis didepan. Kayaknya dia bukan pengemis sembarangan.”
Ujarnya.

Pak D heran tapi tetap-

menemui pengemis aneh itu.

“Siapa kau pak tua?”
Tanya pak D.

“Sebut saja saya seorang ngabdi.”
Jawabnya sambil tersenyum seram.

Kang Usep sampai mundur gemetaran.

“Lalu ada perlu apa?”
Pak D tak terpengaruh, kesalnya tak lagi terbendung.

“Khekhekhe.. akhir bulan nanti-

datanglah ke gunung K. Cari guha paling sempit & curam lalu bersemedilah disana. Lamanya tergantung dirimu sendiri. Khekhekhe.” Lalu pengemis aneh itu pergi begitu saja setelah mengatakan itu.

Bahkan sebelum sempat pak D menanyakan lebih lanjut apa maksudnya.

Kemudian senja kembali bersambut. Menggantungkan harap pak D yg entah bagaimana ia memikirkan dalam-dalam apa yg dikatakan padanya hari tadi.

“Setelah semuanya, gimana pak?”
Bu D ikut memikirkan.

“Kita udah habis-habisan kena tipu. Tapi orang itu tau secara tiba-tiba.”
Jelasnya

“Tapi soal semedi itu?”
Bu D ragu.

“Bu, apa yg salah? Kita diam juga mati, lebih baik mati sambil berusaha.” Meski gemetar, namun kata-kata pak D seolah memastikan tekadnya sendiri.

Bu D enggan membalasnya, ia tau bagaimana keadaan saat ini. Hanya diam membisu sebagai jawaban.

Hari berganti Minggu, tak pernah mereka lewati satu detikpun dg cemas & putus asa.

Akhir bulan akhirnya tiba. Pak D memutuskan tekadnya.

“Hati-hati pak.”
Bu D melepas suaminya dg enggan.

“Iya.”
Pak D membalas singkat.

Lalu punggungnya perlahan hilang di kejauhan.

Gunung K bisa dimasuki dari 3 jalur berbeda. Meskipun disebut gunung, tapi sebetulnya tak jauh berbeda seperti bukit yg agak tinggi.

Melihat dari strukturnya, lebih mirip lembah daripada gunung/bukit.

Pak D masuk di jalur yg paling bisa dilalui oleh sepeda ontelnya.

Jangan tanya motor kebanggaannya kemana. Sudah ia jual demi bisa sedikit membeli beras.

Hingga ia sampai di rumah terakhir jalur itu. Sebuah rumah berdinding anyaman bambu, dg lampu minyak sebagai penerangnya.

“Punten.”
Pak D mengetuk rumah itu.

“Mangga.”
Suara seorang wanita tua menyambutnya serak.

“Saya mau nitip sepeda, boleh?”
Pak D bertanya sopan.

“Oh iya, silahkan. Taruh saja disitu.”
Wanita tua itu menunjuk samping rumahnya.

Pak D menurut.

“Selama saya belum kembali, silahkan pakai sepeda ini.” Ujarnya sambil berpamitan melanjutkan perjalanannya.

Sekitar pukul 9 pak D masih berjalan menyusuri jalan setapak. Senter ditangannya menjadi andalan kakinya.

Jalanan terus menanjak, keringat mulai membasahi punggungnya.

Dengan hati-hati pak D mencari lokasi yg ia harapkan.

Lalu sebuah cekungan dg lembah yg melintang sebagai batas antara dirinya menjadi pilihan.

Pak D menoleh ke sekitar, memastikan bahwa guha inilah yg ia cari.

Selanjutnya, dg hati-hati ia menuruni lembah itu & memanjat dg susah payah naik kesana.

Cekungan itu terlalu sempit untuk disebut guha. Tapi cukup dalam untuk menyembunyikan diri dari pandangan orang yg melintas.

Didepannya rerumputan menjalar menutupi sebagian besar pintu masuk.

Pak D akhirnya sampai, ia berjalan merangkak menuju titik terdalam yg bisa ia capai.

Tak pernah sekalipun ia diajarkan untuk bersemedi. Ia menempelkan punggungnya di dinding guha, menyilangkan kakinya dg posisi duduk.

Pak D mengambil nafas panjang, mematikan senternya & mulai menutup mata.

Tangannya ia taruh diatas lutut. Ia entah bagaimana harus menunggu.

Pagi menyambut, suara burung & gesekan daun yg menyentuh kulit ular terdengar. Serangga semakin siang semakin riang.

Beberapa orang melewati tempat pak D berada & tak satupun dari mereka mengetahui bahwa ada seseorang yg putus asa sedang duduk bersemedi gila didalam sana.

Mungkin hingga berhari-hari, atau hanya puluhan jam, tak ada yg tau pasti berapa lama pak D dalam posisi itu.

Hingga bulan sabit bersinar cerah, udara semakin dingin menusuk, serangga malam enggan bernyanyi. Sunyi sepi seolah menyelimuti setiap inci tanah di lembah ini.

‘Brug!’
Suara benda berat jatuh terdengar berhasil membuyarkan pak D.

Namun ia berusaha tak bergeming.

‘Brug!’
Lagi, suara itu terdengar.

Pak D entah bagaimana merasa bahwa semedinya telah rampung.

‘Brug!’
Ketiga kalinya, pak D memutuskan untuk berhenti & membuka mata.

Gelap, ia masih berada di titik terdalam guha.

Pak D meraba senternya, ia berusaha menyalakan itu namun tak berhasil. Ia tinggalkan senter & merangkak ke arah luar.

Ada bayangan besar yg menunggunya disana.

Saat pak D mengeluarkan sebagian kepalanya, sesosok makhluk setinggi-

pohon kelapa berdiri disana. Matanya sebesar kepalan tangan manusia dewasa, rambutnya seperti ijuk kasar yg menggantung hingga pundaknya, pantulan cahaya bulan sabit menunjukkan warna tubuhnya yg hijau gelap.

Pak D menelusuri sosok di hadapannya. Lalu wajahnya kaku kemudian-

taring makhluk itu mencuat keluar. Di kedua sisinya, atas & bawah. Pak D seolah sedang ditatap kematian saat mata mereka bertemu.

“Pulanglah, kuterima sembah & tumbalmu.”
Lalu sosok menyeramkan itu hilang, seolah angin membuyarkan tubuhnya secara perlahan.

Pak D yg masih tak percaya, ia segera berlari kesetanan. Perasaannya bercampur antara takut & girang tak jelas kenapa.

Ia tak menghiraukan duri, rumput tajam, batu terjal, jalanan licin, ia berlari seolah tak ada lagi waktu untuknya.

Sepeda yg tempo hari ia titipkan, ia ambil tanpa mengucapkan apapun. Tubuhnya seperti dipenuhi tenaga.

Ia kayuh kencang-kencang menuju rumahnya. Bak seperti pembalap yg mengejar garis finish.

Tepat saat ia menyeberang ke arah rumah tokonya, sebuah mobil kijang memacu dg kecepatan tinggi.

Melihat pak D yg tiba-tiba menyeberang, kemudi mobil dibanting ke arah kiri dg tergesa.

Mobil itu menabrak pagar rumah pak D.

Pak D yg kaget, segera menghampiri mobil itu untuk mencari tahu korban yg selamat.

Sayangnya tak ada. Penumpang yg berjumlah 3 orang yg terlihat seperti keluarga itu meninggal.

“… Satu nyawa untuk satu tahun …”
Suara serak berat berbisik di telinga pak D, namun entah bagaimana ia tak merasa takut sama sekali.

Pak D tersenyum, hampir tertawa lepas.

Karena suara itu terdengar keras, orang-orang segera berkumpul & polisi tiba.

Setelah beberapa waktu sejak kejadian itu, perlahan usaha toko pak D mulai menunjukkan laba yg tinggi.

Entah berapapun harga yg ia patok, pembeli akan membelinya tanpa berpikir.

Pak D terus melakukan hal ini hingga beberapa tahun lamanya.

Kemudian, orang-orang desa mulai curiga. Kecelakaan maut didepan toko pak D seolah menjadi rutin. Setiap tahun akan ada 1 kecelakaan maut yg terjadi disana.

Para orangtua, mulai melarang anaknya untuk bermain di sekitar toko pak D & jangan menyeberang di depan tokonya apapun yg terjadi.

Di lain sisi, kang Usep secara perlahan mulai menunjukkan kegelisahan atas apa yg terjadi pada majikannya.

Nafsu makan pak D sudah diluar akal normal. Sehari ia bisa menghabiskan lebih dari 5kg nasi, belum lagi lauk-pauknya.

Namun badannya tak pernah menggemuk sama sekali.

Kenyataan pak D yg berhasil bersekutu dg Buto ijo, hanya ia ceritakan kepada istrinya.

Kang Usep hanya menerka-nerka apa yg sebenarnya terjadi di rumah itu.

Hingga suatu ketika, aku saat itu berumur sekitar 7tahun.
Siang itu, meskipun hari Minggu, entah kemana teman-temanku…

pergi. Aku berjalan tak menentu, hingga tak terasa aku sampai di belakang rumah toko pak D.

Aku berjalan menyusuri gang samping toko itu menuju jalan raya.

Di seberangnya ada warung. Satu-satunya warung di desaku yg menjual es krim.

Saku ku rogoh, tak ada apapun disana.

Pak D yg kebetulan melihatku, segera menghampiriku.

“Loh Jang Adit? Ngapain disini?”
Ia bertanya ramah, tapi entah kenapa aku merasa ketakutan karenanya.

“Ini pak, anu.. Adit mau beli eskrim.”
Aku menjawab terbata.

“Oh kirain ngapain. Yasudah ini, kamu beli sana.”

Pak D memberiku selembar 10ribuan. Aku tersenyum senang. Pikirku, apa yg orang-orang desa katakan tentang pak D bisa jadi kebohongan.

“Makasih pak.”
Ucapku sambil mengambilnya.

Kulihat pak D kembali ke toko, aku kemudian berusaha menyeberang menuju warung didepan sana.

Sudah kubayangkan betapa dingin & segarnya eskrim yg akan kunikmati nanti.

Setelah dirasa aman, aku segera berlari menyeberang.

Tiba-tiba entah darimana, sebuah truk membawa tebu melaju kencang ke hadapanku.

Tubuh kecilku hampir tertabrak, namun entah apa keberuntunganku…

sedang tinggi, tubuhku hanya terserempet, namun dampak dari itu masih berhasil menerbangkan tubuhku hingga ke depan warung.

Suara decitan rem & teriakan penjaga warung menjadi hal terakhir yg aku ingat.

Dari sini, apa yg kuingat menjadi potongan-potongan memori.

Aku mengingat bau obat, suara beberapa orang sedang berbincang, udara dingin menganggu, saat kubuka mata seorang wanita muda memakai pakaian serba putih menyambut kesadaranku.

Lalu hilang.

Selanjutnya, aku berada di rumah, suara lantunan ayat suci terdengar. Aku berada …

di tengah ruangan. Kukira aku sudah mati, namun saat kubuka mataku, ada ibu disana yg langsung menangis & memelukku erat.

Kulihat tangan & baju yg kukenakan. Aku memakai baju kaus biasa, bukan kafan. Aku tidak mati.

Lalu hilang lagi…

Selanjutnya, aku mengingat bau kertas tua, minyak wangi khas milik bapak, pandanganku gelap namun samar.

Aku menggerakkan tubuhku & bangun kemudian.

Ibu segera memelukku dg tangisnya yg membuat telingaku hampir pecah.

Tubuhku seperti ditumpuki beberapa buku. Saat kulihat…

itu bukan buku, tapi beberapa Al-Qur’an yg ditaruh di seluruh tubuhku, seolah tubuhku dikubur oleh tumpukan Al-Qur’an.

Lantunan ayat suci masih terdengar tanpa henti. Ada bapak diantara orang-orang itu yg masih mengaji, air matanya samar jatuh kulihat, namun ia tak berhenti.

Kali ini, aku mengingat betapa lelah & laparnya aku.

“Mak, Adit lapar tapi ngantuk.”
Itulah kata pertama yg aku ingat.

“Iya Dit, iya. Mak masakin makanan kesukaanmu.”
Ia melepas pelukannya padaku.

Wajahnya ia usap dari air mata yg membanjiri.

Aku terlalu lelah & akhirny aku tertidur.

Esoknya, aku bangun jam 10 pagi.

“Mak?”
Aku mencari ibu dg suara pelan karena lelah.

“Iya Dit?”
Ibu segera berlari menghampiri masuk ke dalam kamar.

Ditangannya ada makanan kesukaanku, masih hangat.

“Adit lapar.”
Ucapku.

“Iya, ini, ibu udah masakin sup ayam…

kesukaanmu.”
Matanya berkaca-kaca, air matanya menetes, tapi wajahnya terlihat bahagia meski gurat lelah terlalu jelas disana.

“Makasih mak.”
Aku menyantap makanan itu pelan-pelan.

Setelah satu bulan, tubuhku pulih sepenuhnya. Aku tak mengerti bagaimana/apa yg terjadi.

Namun..

kurasakan, yg pasti ada sesuatu yg berbeda dari tubuhku. Punggungku kadang panas seperti disengat api, kadang juga dingin seperti disiram air es.

Leher belakangku seringkali pegal, berkali-kali aku terbangun di tengah malam tanpa sebab.

Mataku sering lelah, kepalaku kadang terasa ringan.

Di usia itu, aku hanya menganggap mungkin ini akibat dari kecelakaan tempo hari.

Beberapa Minggu setelahnya, mungkin kebetulan atau sesuatu sedang memberitahuku. Aku mengalami mimpi yg sangat aneh.

Malam itu aku tidur pukul 10 malam, esok adalah Senin & aku harus berangkat lebih awal untuk mengikuti upacara bendera.

Dalam mimpiku, aku sedang berada di depan toko pak D. Trauma karena apa yg orang-orang desa katakan membuatku gemetar ketakutan.

Tapi tubuhku seolah memberitahu untuk masuk kedalam toko & rumah pak D.

Saat itu, aku menyadari bahwa ini hanyalah sekedar mimpi & takkan ada hal apapun yg terjadi.

Aku mengikuti instingku.

Rumah pak D cukup luas, aku berjalan ke tengah ruangan. Lalu memasuki sebuah kamar yg pintunya terbuka sedikit.

Ada banyak sekali rupa-rupa makanan disana, hingga-

Ruangan itu penuh sesak karena tumpukan makanan. Dari jendela, sebuah jari sebesar tubuhku memasuki ruangan itu, warnanya hijau lumut tua nan kotor, kukunya besar seperti sebilah golok, ia menancapkan kukunya di salahsatu makanan & menariknya keluar lewat jendela.

Aku yg ketakutan namun sadar bahwa itu mimpi, dg hati-hati mengintip jari milik siapa barusan.

Saat kutengok, sesosok tinggi besar sedang duduk di halaman belakang rumah pak D. Rambutnya gimbal hingga pinggang, keempat taringnya mencuat, bola matanya melotot, ia sedang makan.

Beruntung, sosok itu tidak menyadari keberadaanku.

Aku mundur sepelan mungkin berniat keluar dari ruangan itu.

Tepat di pintu, kakiku menginjak sesuatu.

Itu sebuah buku, tidak, ini album foto. Aku mengambilnya sembari terus berjalan keluar dari sana hingga aku tiba diluar.

Di pinggir jalan, orang-orang berjalan, mobil melaju, keberadaanku seperti tak disadari.

Barulah aku berani membuka album foto yg kutemukan.

Ada deretan foto dg tulisan Sunda Buhun dibawahnya. Foto-foto itu lebih mirip foto autopsi kecelakaan maut. Ada beberapa lembar disana ada foto yg kepalanya hancur, badannya terbelah, perutnya robek, lehernya remuk, semua wajah yg terpampang hampir tak berbentuk.

Di akhir halaman, terdapat fotoku dg bingkai merah darah. Namun tak ada tulisan Sunda Buhun dibawahnya.

Tulisan dg tinta emas yg terdapat di-

masing-masing bawah foto itu tak terdapat di fotoku. Saat kubalik, sampul belakangny adalah foto pak D, dg tulisan aksara Sunda Buhun berwarna emas dibawahnya.

Foto Pak D yg berwajah pucat, lidahnya berwarna ungu menjulur.

“HAHAHAHA!!”
Tiba-tiba suara menggelar terdengar-

Sontak kulihat ke asal suara, sosok besar hijau dg wajah menakutkan itu sedang berdiri di hadapanku.

Tingginya melebihi genting rumah & toko pak D.

Saat aku ketakutan & ingin berlari, aku terbangun.

Perutku mual sejadi-jadinya, kepalaku sakit seperti ditusuk jarum.

Tak berdaya untuk bergerak, aku muntah disaat itu juga hingga mengotori lantai & kasurku.

Mendengar itu, ibuku dg tergesa menghampiriku. Aku menangis, tapi tak mampu menceritakan mimpi yg kualami.

Pagi itu, aku tak dapat masuk sekolah. Aku jatuh sakit.

Sore harinya,..

Pengumuman yg disuarakan di masjid desa membuatku bergidik ngeri. Pak D meninggal hari itu.

Kemudian, setelah semua kejadian itu. Tahun-tahun selanjutnya kulalui tanpa ada hal yg kukahwatirkan.

Namun tepat saat ulangtahunku yg ke-17, sosok itu kembali menampakkan diri.

Ia menunjukkan diri didepan rumahku saat malam sedang hujan deras. Aku melihatnya saat sedang menutup jendela, kilatan cahaya petir memperjelas wujudnya.

Aku tertegun ketakutan, setelahnya aku tak sadarkan diri. Kata ibu, aku kesurupan.

Salahsatu pamong desa menolongku & ia entah bagaimana menceritakan semuanya. Ia menyadarkanku bahwa aku adalah seorang Cupar Tumbal yg akan terus diikuti karena telah ditandai namun gagal diambil.

Di beberapa waktu, aku diharuskan untuk memberitahu pak D yg katanya sedang menjadi budak di alam seberang bahwa diriku masih hidup, aku adalah satu-satunya tumbal yg lolos & berhasil selamat bahkan setelah aku ditandai sedemikian rupa olehnya.

Hal itu dilakukan katanya untuk mengingatkan kegagalan pak D & memperpanjang kontrak budaknya di alam sana.

Karena selama aku hidup & dapat menjalani takdirku, hingga waktu kematianku yg telah digariskan takdir tiba, sosok itu tak dapat menjangkau diriku.

Meskipun aku hidup ditandai, namun sosok itu hanya dapat menampakkan diri tanpa bisa menyentuh.

Menariknya, karena sosok itu kerap menampakkan diri, demit di-

sekitarku enggan mendekat/menganggu. Mereka berfikir bahwa aku adalah mangsa milik sosok yg lebih berkuasa. Padahal aku adalah mangsa yg tak pernah dapat ia tangkap.

Takdir memang berjalan dg cara yg aneh. Yg bisa kulakukan hanya bersyukur & menjalani hidup seperti seharusnya.

Ketika Adit selesai bercerita, ada rasa puas namun kesal yg wajahnya tunjukkan pada saya.

Kopi telah dingin, bersamaan hembusan angin diluar.

Saya membayangkan, mungkin saja, makhluk itu sedang berdiri diluar, melihat kami, memperhatikan bagaimana Adit menceritakan tentang dirinya.

“Ohya, terus keluarga pak D sekarang gimana?”
Tanyaku penasaran.

“Istrinya tahun lalu meninggal karena penyakit aneh. Katanya tubuhnya terus membengkak, ia sering muntah darah & muntahannya berbau busuk. Neng D, anak perempuan satu-satunya tinggal bersama nenek dari pihak ibunya. Ia sering terlihat berjualan es kelapa muda dipinggir jalan demi membiayai sekolahnya sendiri.” Jelas Adit.

Saya menghela nafas panjang. Seiring mengakhiri kisah rumit milik Adit.

“Begitulah ceritanya, Re. Takdir pak D yg berjalan sedemikian ‘baik’ menurut pandangannya harus terhenti di saya sebagai Cupar Tumbal.” Tutupnya malam itu.

Saya hanya tersenyum puas, kepala saya terlalu sibuk mencerna bait demi bait kisah yg Adit tuturkan.

Malam yg semakin larut ikut menutup penuturan Adit & persaksianku.


@redear_redear

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Admin IRC
Written by
Admin IRC
Join the discussion

1 comment