Jangan di Buka Bila Tak Mengucapkan Salam

“Nduk, cepat ambil pring gading di dapur.” Titah ibu kepadaku.

Gegas aku berlari ke belakang. Semenjak ada teror di desa semua sebelum azan magrib harus sudah di dalam rumah, mereka pun tak berani keluar saat magrib tiba.

Desas-desus warga teror ini berasal dari desa sebelah.

Hari mulai gelap aku dan ibu memasukkan segala macam barang tak boleh ada yang di luar. Tak lupa menyalakan obor tepat di samping pintu dan menancapkan pring gading di seluruh penjuru rumah. Ini semua anjuran oleh sesepuh di desaku.

“Nduk, sudah selesai belum? ” tanya ibu.

“Sudah, bu,”

“Ya sudah, ayo masuk!”

Aku mengangguk gegas menyusul ibu masuk ke dalam.

Sudah tiga minggu desaku di ambang kekhawatiran. Dengar-dengar teror di desaku berupa poc*ng hitam. Jujur, aku membayangkannya saja sudah merinding.

Seperti dua hari yang lalu, aku mendengar kabar bahwa ada seorang ibu yang meninggal secara tiba-tiba saat ingin pergi ke pasar. Setelah di cari penyebabnya ternyata ibu tersebut lupa memasukkan sandalnya ke dalam rumah. Lalu paginya ia memakainya.

Mungkin sedikit aneh, tapi tidak bisa di pungkiri kalau itu nyata ada di desa ini.

“Bapak pergi dulu, ya, jangan bukakan pintu kalau tidak mengucap salam assalamu’alaikum.”

“Waalaikumsalam.” Jawabku dan ibu bersama.

Semenjak ada teror para bapak-bapak yang ingin salat di musala harus berangkat jam setengah enam itu pun harus berangkat secara bersama-sama.

“Bu, memang benar kalau teror yang berada di desa kita itu teror poc*ng hitam?” tanyaku penasaran.

Biasanya ibu akan menolak sesuatu hal yang menurut beliau aneh dan tidak masuk akal.

“Percaya tidak percaya, nduk. Kita harus waspada, sebenarnya ini bukan pertama kalinya kejadian di desa kita. Maka dari itu kamu harus tetap berdzikir di mana pun berada, sudah sana ambil wudhu.”

Ternyata dulu ibu pernah merasakan betapa mencekamnya situasi seperti ini. Biasanya banyak suara anak kecil yang hendak pergi mengaji. Warung-warung di perempatan pun tutup sekitar jam empat sore.

Terkadang, aku akan pergi ke musala bersama dengan bapak dan ibu, tapi semenjak ada teror bapak melarang aku dan ibu untuk ikut keluar. Kata bapak, rumah tidak boleh di kosongkan.

Selesai berwudhu aku bersiap untuk melaksanakan salat berjamaah.

Tok tok tok …

Tok tok tok …

Baru saja selesai salat aku di kejutkan dengan suaranya ketukan pintu berkali-kali. Apakah itu bapak, batinku.

Tapi, rasanya tidak mungkin kata ibu bapak akan pulang setelah subuh.

“Bu, ada yang mengetuk pintu,” ucapku pelan merangkak mendekati ibu.

Tok tok tok …

“Bu, suara ketukannya makin keras mungkin itu bapak.”

Bulu kudukku semakin merinding saat mendengar ketukan tersebut semakin kencang.

“Jangan kamu buka sebelum dia mengucapkan salam. Cepat berdzikir!” Ucap Ibu membuat aku semakin takut.

Sekarang aku tahu maksud dari ucapan ibu.
Source: una

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Admin IRC
Written by
Admin IRC
Join the discussion

2 comments
  • This is a really good tip particularly to those new to the blogosphere.

    Simple but very precise information? Thank you for sharing this
    one.
    A must read post!

  • When another person writes an paragraph he/she retains the graphic of a user in his/her head that how a user can be aware of it. So that’s why this paragraph is perfect. Many thanks!