Pelet Tali Pocong Perempuan Gondo Mayit

Ngga adalah mancing kok ngga pakai umpan, ikan apa yang mau makan Besi Karatan (gretel/kail) maka kalau mau dapat ikan tergantung kail kita besar atau kecil, kalau besar umpan ya besar kalau kesil umpannya ya kecil.

Berawal dari sebuah perjalanan yang tidak berujung, di desa sebelah sebut saja desa Nojo Ageng aku punya temen wanita sebut saja namanya Maryati. Orang nya seusiaku ya beda dikit lebih muda mungkinnya. Koclok nya sama tetep, dia peka terhadap makhluk makhluk tak kasat mata.

Aku sering ditakutinya tapi aku pura-pura takut biar bisa memeluknya. Cantik orangnya tapi maaf bau badannya agak kurang sedap alias bau badeg (busuk comberan campur bau bangkai kering gitu). Tapi semua aku tepis aku hiraukan, karena hanya aku teman lelaki satu satunya mungkin juga teman satu-satunya.

Maklum maryati terlahir sebagai anak orang miskin. Gubug nya reot dan ada dua adik perempuan Yang masih kecil, pakaiannya saja maaf itu itu aja dan terlihat agak kumal. Tapi aku berteman denganya bukan karena dia cantik atau gimana, aku berteman tulus brteman.

Suatu hari aku datang kerumahnya, dari jalan besar rumahnya agak kedalam ya beberapa puluh meter gitu jalan setapak. Orang tua nya pun sudah akrab dan terbiasa denganku. Depan rumahnya masih kebonan yang di tumbuhi pohon jati jadi agak terlihat seram gitu tetangga juga jauh jaraknya.

Dari sore jam 5 an aku sudah kerumahnya ya sekedar ngopi+ngobrol bersama keluarganya. Dari situ lah baru aku tau bahwa sebelelumnya maryati tidak berkeringat bau dan itu terjadi satu tahun sebelum kenal denganku. Waktu itu maryati pacaran sama salah satu pemuda sebut aja Kasman.

Maryati masih berumur 16 tahun, singkat nya pemuda itu lumayan kaya di desa nya dan juga bapaknya seorang dokter di salah satu rumah sakit di Semarang. Si kasman ini melamar maryati dan bapaknya maryati sudah setuju dengan lamaran itu ya pikirnya biar anaknya hidup lebih mapan.

Namanya juga orang tua ya kan pasti ingin melihat anaknya hidup berkecukupan dan bahagia walau bapaknya hanya orang tidak punya harta dan karya.

Walau bapaknya kasman sebenernya tidak setuju dengan pilihan kasman tapi mau gimana lagi kasman sudah jatuh cintrong sama maryati. Dan kasman ini anak satu satunya Dari dokter itu.

Bapaknya dokter ibunya kepala sekolah dan kasman sendiri mengajar di sekolahan ibunya. Memang terpaut 8 tahun dari usia maryati. Dengan tegas maryati menolak dengan alasan yang sangat konyol. Alasannya menolak lamaran kasman adalah Maryati masih pingin bekerja di luar negeri pibgin jadi tkw, dan ingin membahagiakan kedua orang tuanya ingin membangunkan rumah yang layak dan mengangkat adik-adik nya untuk bersekolah.

Nah kasman dan keluarganya pulang dengan kecewa hati dan sambil berkata Yang kurang pantas “sudah miskin, sok-sok an” kata bapaknya kasman dengan nada marah sembari meninghalkan rumah maryati.

Nah dua bulan kemudian kasman agak kurang dalam berpikir dan juga berperilaku. Setiap melihat wanita dia memanggil nya maryati, sampai-sampai di sekolah murid wanitanya di panggil dengan nama maryati. Kan ediannn.

Empat bulan dari penolakan pinangan kasman maryati mengalami hal yang tidak terduga. Maryati demam panas tinggi badannya bahkan kedokter atau paranormal pun tidak mempan semua, dan demam itu hampir dua minggu lamanya sampai dia sembuh dan tiba-tiba mulai tercium bau bangkai dan itu berlangsung berhari-hari bahkan di cari ngga ketemu bangkainya.

Sampai-sampai saat tau kalau bau badeg dan bau bangkai itu bersumber dari badannya maryati, bapaknya baru nyadar saat di luar rumah maryati tiba-tiba duduk di sampingnya dan tercium bau bangkai tersebut barulah ketahuan bahwa sumbernya dari maryati dan itu pun di siasati dengan menyemprotkan minyak wangi ketubuh maryati tapi tetep saja kalah dengan bau bangkai tersebut.

Sampai akhirnya di obatkan ke yai dan mbah dukun tapi semuanya mental ngga ada gunanya. Masih tetep bau bangkai, sampai akhirnya temen tetangga sampai ngga ada yang mau mendekat, keluarga maryati bener-bener terkucilkan sampai ketemu lah aku sama maryati di pinggiran sawah sedang santuy menikmati pemandangan sore.

Begitulah awal cerita nya, dengan menyeruput kopi dan magrib pun berkumandang. Lalu tiba-tiba hujan turun. Alhasil aku ngga bisa pulang tapi bertahan sama juga menakutkan, lha kalau rubuh gimana gubug nya? pikir ku. Tapi maryati saja tenang di rumah mosok aku kawatir. Sampai agak malam jam 8 belum juga reda hujannya.

Aku masih ngobrol sama bapaknya maryati dan sekali kali maryati nimbrung. Dan tiba-tiba bau wangi semerbak, aku kira maryati memakai minyak wangi tapi maryati bilang tidak dan bapak nya maryati masuk kedalam rumah dan aku bersama maryati duduk di luar, sesekali hawa dingin menghembus kearah ku.

Tiba-tiba merinding begitu aku menoleh ke samping lha kok berdiri sosok pocong dengan santuy nya di samping tiyang sambil nyender dan melotot kearahku.

“Mas lihat pocong ngga” tanya maryati.

“Ngga, mana ada pocong, ngawur kamu ti” jawabku berbohong padahal aku melihat nya jelas banget hanya berjarak 3 meter an.

“Bentar aku kebelakang dulu”, ucapku sambil berjalan.

Setelah dari belakang pocong masih berdiri diam dan seketika tepat aku lepas di depan nya tanganku secepat kilat,, pleggg.. Mendorong kepala pocong sampai membentur tiyang rumah.

“Bajingannnn” teriak pocong, aku berjalan santuy lalu kembali ke arah maryati dan duduk di sampingnya.

“Hiiihhiij” maryati tertawa melihat pocong mengumpat.

“Kenapa tertawa mar” tanya ku

“Mase lho tangannya mengenai kepala pocong sampai membentur tiyang ahahaha, pocong nya marah mas, dia kesini” ucap maryati lalu menunduk, setelah pocong bener bener dekat di hadapan kita berdua.

Aku lihat mulut pocong sedang komat kamit entah ngapain aku pikir dia mau meludahi ku.

“Kuiiikk” suara pocong mengumpulkan ludah. Belum sempat ngeludah, aku terlebih dahulu meludahinya.

“Cuiih”

“Asuuu kedisikan” teriak pocong (anjir keduluan). Maryati kembali tertawa.

“Kenapa mar,tawa terus” tanyaku sambil senyum.

“Ahahahaa kok bisa kebetulan mas ngeludah kena muka nya pocong” jawabnya.

“Mosok tow mar” timpalku.

“Iyo mas” jawabnya.

Aku mulai mikir maryati bau badanya mungkin karena ulah dari pocong tersebut dan itu masuk akal, atau pocong hanya suruhan.

“Mar, bikinkan aku kopi panas banget” pintaku

“Iyo mas, bentar aku bikinkan” jawabnya sembari berdiri dan jalan kedalam rumah.

Kemudian aku tarik kerah pocongnya dan aku tekan kepalanya di meja.

“Kamu yang membuat maryati bau badan hah” bisik ku sambil menekan kepalanya kuat kuat.

“Cuh… Cuhhh”

Pocong sambil meludah di meja. Sengaja aku miringkan kepalanya.

“Iyo, memang kenapa” jawabnya.

“Gur takon” ucapku.

“Apa salah nya maryati kok kamu sampai tega membuat nya begitu, di jauhi temen dan tetangga” tanyaku.

“Ahahaaha aku hanya suruhan, aku hanya mengikuti perintah” jawabnya.

Kemudian aku tekan kuat-kuat kepalanya diatas meja.

“Ceritakan coba kok bisa begitu” tanyaku serius.

“Aku hanya suruhan saja, setahuku tali pocongku di ambil dan di kubur di bawah tiyang itu, biar maryati di jauhi lelaki dan mau menerima lamaran anaknya si dokter, lantaran sakit hati di tolak sama maryati” jelas pocong.

“Lelaki boleh memilih siapa pun yang akan di nikahinya tapi ingat wanita juga berhak menolak” ucapku.

“Aku ngga perduli aku hanya di tugaskan membuat maryati di jauhi tetangga dan lelaki tapi kamu kok kuat dengan bau bangkai yang keluar dari badan maryati” tegas pocong.

“Aku lebih gila dan sadis daripada kamu cong” ucapku dengan nada marah.

Tiba tiba maryati keluar sambil membawa segelas kopi dan di letakkan di meja, persis di samping kepala si pocong yang terus meronta ingin lepas dari tanganku.

“Dah kamu jangan bergerak terus cong aku siram kopi panas mau kamu hah” bentakku.

Pocong geleng geleng, kemudian aku suruh menggali tanah di bawah tiyang rumah nya dan ternyata bener sekali ada satu bungkusan plastik warna putih kemudian dibawa kemeja.

“Iki cong barangnya” tanyaku.

“Iya, itu bener” jawabnya.

“Terus diapain ini hah, biar sembuh maryati” tanyaku makin kenceng.

“Ikat kan di kaki ku” ucapnya.

Maryati pun melaksanakan perintah si pocong dan kemudian pocong sudah mulai jinak, ngga meronta terus dan aku lepaskan. Lemes si pocong hanya duduk sambil menunduk.

“Sekarang gimana adakah syarat yang lain” tanyaku.

“Kalau mau maryati kembali seperti semula, doa harus mandi air tuju sendang dan meminum nya dan juga harus mandi di tiga sungai yang bercabang barulah akan hilang secara sempurna dan aku tidak akan kembali lagi” jelasnya.

Singkat setelah pocong aku suruh pulang dan aku pun pamitan hujan dah reda. Tiga hari kemudian aku datang lagi kerumah maryati dan mengajak nya ke sungai yang juga telah aku pantau.

Sampai selesai dan alhamdulillah maryati sekarang sudah ada suami dan lumayan kehidupannya. Bapak nya maryati sudah meninggal dunia dan dokter juga meninggal tinggal kasman yang mengalami gangguan jiwa, walau tidak mati. Tapi cukup memberi pelajaran hidup.

Maryati menjadi tkw di luar negeri kurang lebihnya 4 tahun an sampai bapaknya meninggal pun tidak bisa pulang.

Intinya tidak semua yang kita inginkan harus terwujud atau terlaksana dengan jalan pintas. Pelet tali pocong yang memakan keluarga sendiri.

Perempuan di dapat tidak celaka diri sendiri. Jodoh kita memang boleh memilih tapi pikir yang di pilih mau atau tidak. Semua masalah pasti ada solusi nya, percaya diatas langit masih ada langit. Jangan percaya sama setan yang tugasnya menjerumuskan umat manusia.


@iblizzkaton

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Admin IRC
Written by
Admin IRC
Join the discussion