Tersesatnya 8 Orang di Bumi Perkemahan

Ini adalah dari kisah dari salah seorang sahabatku, sebuat saja Anis. Entah moment ataupun sebuah kebetulan semata. Aku sudah mengenalnya lebih dari 5 tahun lamanya, namun selama ini dia tidak pernah menceritakan hal ini.

Kisah dimana dia dan keenam temannya berserta seorang guru tersesat di sebuah bumi perkemahan yang cukup luas, tepatnya di lereng Gunung Lawu

Mereka berdelapan tersesat dan secara tiba-tiba bertemu dengan sebuah keluarga harmonis yang menolong mereka dari hujan dan udara yang dingin kala itu.

Tahun 2014, ketika Anis masih duduk di bangku SMA. Sekolahnya membuat sebuah kemah dibumi perkemahan dan diikuti oleh seluruh siswa.

Kebetulan Anis menjadi panitia dengan beberapa temannya, mereka diberi tugas untuk mencari tempat dan segala keperluan yang dibutuhkan ketika acara berlangsung. Dari beberapa tempat yang bisa menjadi opsi, terpilihlah tempat ini, bumi perkemahan disalah satu lereng Gunung Lawu.

Letak bumi perkemahan ini bisa dibilang berada didesa yang padat penduduk. Dengan alam yang masih asri dan disuguhi hamparan sawah yang luas dan pemandangan diatas gunung pada umumnya, ditambah kesejukan yang bisa dirasakan ketika berada disana.

Disana juga terdapat pendopo yang berada di ujung jalan desa dan juga menjadi titik perbatasan antara hutan atau bumi perkemahan dengan desa yang ada disana.

Atau bisa dibilang pendopo adalah rumah terakhir sebelum masuk ke bumi perkemahna walaupun tepat disebrang pendopo masih ada satu rumah warga yang saling berhadapan

Jarak dari pendopo juga tidak jauh, hanya berjalan beberapa meter keatas untuk menuju titik dimana kemah itu dilakukan. Pendopo ini lah yang digunakan sebagai basecamp panitia dan dijadikan panitia untuk beristirahat.

Selama satu bulan mereka menyiapkan segalanya, dari konsep dan apa saja yang dibutuhkan ketika acara berlangsung. Pada saat itu kemah direncanakan berlangsung 2 hari, tepatnya di hari Sabtu dan Minggu.

Semua berjalan semestinya dan tidak ada halangan hingga menuju H-1 acara yang jatuh di hari jum’at. Seperti panitia pada umumnya, H-1 Anis dan teman-temannya menyiapkan segala kebutuhan dan menurunkan segala keperluan peserta kemah.

Beberapa panitia inti sekitar 9 orang ( 5 cowok, 4 cewek) berangkat pada hari itu dengan megendarai sebuah truck.

Tibalah siang itu, mereka segera menurunkan barang yang dibawa dari bawah lalu dipindahkan ke sebuah pendopo yang menjadi basecamp panitia. Setelah semua barang selesai dimasukkan, mereka semua terbagi dengan masing-masing tugas agar fokus menyelesaikan sebelum malam tiba.

Ketika semua sedang bertugas dengan kesibukan masing-masing, salah seorang bernama Ocad yang bertugas membersihkan terpal bertanya ke salah seorang warga menanyakan sebuah selang air untuk dijadikan alat membersihkan terpal.

“Pak, ada selang gak ya ? ini soalnya saya mau bersihin terpal” tanya Ocad kepada salah seorang warga.
“oh itu mas dibelakang pendopo, nanti ada jalan kecil turun trus ada lumbung, nah disitu mas selangnya warna biru”

Ocad segera mengambil selang dengan berjalan menuju lumbung (rumah kecil untuk tempat menyimpan barang) yang dimaksudkan salah seorang warga.

Ketika ia berjalan menuju lumbung dan menuruni jalan kecil yang hanya bisa dilewati dengan satu kaki, ia melihat seorang bapak-bapak sedang memotong rumput disebuah petakan tanah tepat di sebelah kanannya.

“Monggo pak….. “ Ocad yang mencoba menyapa bapak-bapak yang dilihatnya.

“…. “ tidak ada jawaban dari bapak itu dengan masih mengayunkan sebilah arit.

Ocad pada saat itu tidak berfikir aneh karena mungkin bapak itu tidak mendengar apa yang dia katakan.

Beberapa menit berselang, dengan sedikit perjuangan Ocad berhasil menemukan selang air dikarenakan beberapa barang yang berserekan dan tidak adanya penerangan sedikit membuatnya kesusahan mencari dimana letak selang air itu.

Ketika ia kembali kearah pendopo tepatnya disebuah tanjakan kecil yang hanya dilewati satu kaki, ia masih melihat sosok bapak yang pertama kali ia lihat di tempat yang sama. Otomatis Ocad mencoba mengucapkan salam untuk kedua kalinya.

“Monggo pak” dengan suara lebih keras dari sebelumnya

“……………………….. “
masih tidak ada jawaban dan sosok bapak itu masih mengayunkan sebilah arit ke rumput didepannya.

Ocad bingung kenapa bapak itu tidak meresponnya lagi. Karena penasaran, beberapa langkah Ocad berjalan ia memalingkan badan dan mencoba mengamati seksama kearah sosok bapak itu.

Dan benar saja, tak berselang lama…

” Prindingggg… ”
bulu kuduk ocad berdiri dengan sendirinya tatkala mengamati pergerakan sosok bapak-bapak yang ia lihat.

Disitu Ocad tersadar bahwa sosok bapak-bapak yang dilihatnya itu tidak berpindah tempat dengan posisi yang sama dan gerakan yang selalu sama dari pertama ia lihat hingga kembali dari mengambil selang air.

Gerakan itu selalu terulang, bahkan ketika Ocad menatap persekian detik sosok bapak itu benar-benar melakukan gerakan yang selalu sama, bahkan tangan ataupun posisi duduk tidak bergeseran sedikitpun.

Gerakan yang berulang membuat Ocad ketakutan hingga membuatnya berlari menuju pendopo dan tanpa pikir panjang membersihkan terpal itu dengan sedikit tergesa-gesa walaupun dalam benaknya masih bertanya-tanya dengan apa yang dilihatnya.

Bahkan didalam lubuk hatinya ingin rasanya mencoba mengecek kembali dan menjawab rasa penasaran dengan sosok bapak-bapak yang ia lihat, namun ia mengurungkan niat dengan menaruh selang itu dipendopo tanpa mengembalikan.

Ocad pun memilih tidak menceritakan apa yang dilihatnya dengan teman-teman karena takut itu hanyalah halusinasi semata.

Sore harinya tepat setelah maghrib, setelah semua tugas sudah diselesaikan beriringan dengan kejadian awal yang dialami Ocad.

Beberapa panitia memutuskan untuk beristirahat dengan bersantai didalam pendopo sembari menonton film dengan sebuah tab yang dibawa Anis dan ditemani satu teko penuh teh panas.

Sekitar 8 orang sedang asik menonton film, namun berbeda dengan Ocad yang memilih untuk berjaga diluar dengan alasan menikmati dinginnya malam itu.

Ocad seperti tidak kapok dengan kejadian awal tadi, dan memang Ocad dikenal orang yang pemberani dari yang lain.

Namun tak lama…

“taaar taaar taaaar ”
“taaar taaar taaaar ”
suara ketukan pintu kaca dari arah luar.

8 orang yang mendengar suara ketukan pintu itu sekitika memalingkan pandangan mereka dan bergegas keluar menemui Ocad.

“Ngopo e cad ?” (kenapa e cad) tanya Anis

“ aku krungu suara wong mlaku seko kono” (aku denger suara orang jalan dari arah sana) jawab ocad sembari menunjuk arah dimana ia mendengar suara langkah kaki.

“ah mosok.. ra mungkin lah kan iki omah terakhir” (ah masaak, gak mungkinlah ini kan rumah terakhir) jelas Anis dengan raut muka seperti tidak percaya dengan apa yang dikatakan Ocad.

Bukan hanya Anis, 7orang lain sempat tidak percaya dengan kesaksian Ocad, apalagi pendopo itu termasuk rumah terakhir sebelum menuju arah bumi perkemahan, dan arah dimana Ocad mendengar langkah kaki dari sebelah kiri dimana arah itu adalah arah menuju bumi perkemahan.

Ocad mencoba meyakinkan dan menyuruh teman-teman lain untuk diam beberapa saat. Dan ternyata apa yang dikatakan Ocad benar adanya. Ocad, Anis dan ketujuh orang lain mendengar suara langkah kaki seperti diseret bergesekan dengan tanah.

“sreeeeeg sreeeeg sreeeeeg “

Suara langkah kaki itu benar-benar jelas terdengar, bahkan semuanya mendengar arah dari sumber suara yang memang tidak jauh dari pendopo.

Anis dan yang lain mencoba mengecek darimana sumber suara itu, namun tidak melihat apapun yang membuat suara itu timbul.

Bahkan ocad sempat mengelilingi pagar pendopo dan tidak melihat orang ataupun hewan di sekeliling pendopo. Padahal suara itu masih terdengar jelas ketika mereka mencoba mengecek sumber suara.

“Sreeeg sreeeg sreeeeg “
Suara itu terus terdengar dan semakin mendekat ke arah pendopo.

“wah wah ra bener ki.. wes mlebu wae yo mlebu” ucap Ocad karena merasa ada hal janggal dari suara itu, bahkan ia sempat menghubungkan dengan sosok bapak-bapak yang dilihat sebelumnya.

Akhirnya, karena takut ada hal yang tidak diinginkan, mereka memutuskan untuk masuk kedalam pendopo apalagi seorang Ocad yang sebenarnya sudah mengalami hal janggal untuk yang kedua kalinya.

Ketika mereka mencoba berfikir positif dan berlindung didalam pendopo, tiba-tiba timbul obrolan dari seorang Ocad yang dimana ia masih penasaran dan sesekali melihat kearah luar dari balik pintu kayu yang bagian atasnya terdapat sebuah kaca.

Ocad menyeletuk bahwa ia merasa melihat seseorang yang duduk di sebrang pendopo, tepatnya disebuah rumah yang terdapat kaca besar menembus kedalam.

Dari penglihatan matanya, di dalam rumah itu terlihat seseorang yang duduk bersender sebuah kursi dan selalu menatap kearah pendopo.

Mungkin jiwa muda mereka membuat kejanggalan awal bukanlah apa-apa. Anis, Ocad dan kedua temannya memutuskan keluar pendopo untuk menikmati sebatang dua batang rokok sembari sesekali melihat kearah rumah itu.

Anis, Ocad, dan kedua temannya melihat dengan jelas sosok manusia yang duduk didalam rumah tersebut.

Bahkan ketika mereka mulai tertidur dan bangun untuk sholat subuh, mereka masih melihat sosok itu dengan jelas.

Anis sempat bertanya-tanya dan logika Anis berkata tidak mungkin ada orang yang duduk bersender dari malam hingga pagi hari dengan posisi yang sama dan tidak berpindah sama sekali.

Pagi harinya, ketika mentari sudah memunculkan sinarnya. Anis yang penuh tanda tanya mencoba mengecek rumah dan ternyata kursi yang digunakan bersender oleh sosok manusia yang dilihat semalam hilang entah kemana, tidak ada kursi bahkan rumah itu bisa dibilang rumah kosong.

Bukti diperkuat ketika salah seorang warga yang kebetulan lewat mengatakan kepada Anis bahwa rumah yang sedang ia satroni sudah ditinggalkan penghuninya 6 bulan lamanya.

Anis yang mendengar penjelasan warga sempat tidak percaya, apalagi yang dilihat semalam benar-benar jelas, sesosok manusia yang duduk di sebuah kursi tepat dibelakang sebuah kaca besar.

“yo ra mungkin to mas, iki kan wes didol omahe mas, sik duwe wes melu bojone ng Wonogiri.. kok jenengan malah ngeyel”

(ya gak mungkin to mas, ini kan rumahnya sudah dijual, yang punya ikut istrinya ke Wonogiri, kok kamu malah ngeyel)

Mendengar penjelasan warga, sontak Anis bertambah bingung karena semalam bukan hanya dia yang melihat sosok itu, bahkan ketiga temannya yang lain juga melihat.

Ocad yang melihat Anis bercakap dengan salah seorang warga sempat menanyakan sekembalinya Anis dari arah rumah.

Namun Anis lebih berbohong kepada Ocad, Anis berkata bahwa sosok manusia yang ada didalam rumah itu adalah pemilik rumah yang memang sering duduk dikursi itu dari malam hingga pagi hari.

Bahkan Anis menjelaskan bahwa sosok manusia yang dilihat semalam adalah bapak dari salah seorang warga yang menemuinya ketika mengecek rumah tersebut.

Berbohong adalah jalan satu-satunya, Anis berfikir apabila dia berkata jujur nantinya akan menimbulkan kepanikan apalagi banyak sekali perempuan yang menjadi panitia dan ikut melihat sosok itu semalam.

Singkatnya, Sabtu itu panitia lain menyusul ke bumi perkemahan yang datang bersama para guru dan peserta kemah.

Mereka semua berkumpul di sebuah tanah lapang, Anis dan kedelapan teman yang sebelumnya sudah datang dan bermalam dengan segala kejanggalan yang mereka rasakan lebih memilih diam dan tidak membicarakan kepada panitia lain.

Mereka mencoba lebih fokus dengan rangkaian acara hari itu karena banyak hal yang harus mereka lakukan. Namun, kejanggalan yang dirasakan malam itu ternyata belum berhenti.

Salah seorang teman Anis bernama Reza yang ikut bermalam dan kebetulan hpnya dijadikan alat berfoto sempat terkejut dengan sebuah foto yang dia abadikan malam sebelumnya

Reza melihat sebuah gumpalan asap tebal berwarna putih memanjang tepat di sebelah kiri, seketika Reza memanggil teman-teman lain yang ada didalam foto.

Mereka bertanya-tanya darimana asal asap putih itu, ada yang mengaitkan dengan asap sebuah kompor portable dan asap rokok. Anis menolak itu karena tidak mungkin asap dari kompor portable ataupun rokok bisa berbentuk seperti gumpalan asap tebal dan memanjang seperti didalam foto.

“wes wes simpen wae fotone, ngko delok neh ki wes meh mulai acarane “
(sudah sudah simpan aja fotonya, nanti dilihat lagi ini dah mulai acaranya ) ucap Ocad mencoba mengalihkan yang lain agar lebih fokus apalagi hari Sabtu adalah hari pertama kemah.

Hari pertama berjalan tidak seperti yang diinginkan, entah berhubungan atau tidak dengan kejanggalan di hari sebelumnya.

Pagi hari cuaca sangat panas bahkan terasa sangat terik walaupun udara sejuk masih bisa dirasakan. Namun tepat setelah dzuhur cuaca berubah drastis, tiba-tiba hujan deras disertai angin kencang.

Anis yang bertanggung jawab sebagai koor acara sempat kebingungan, awalnya siang itu ia berencana ingin melakukan survey jalur yang digunakan untuk outbond. Memang dari rentetan acara, minggu pagi akan diadakan outbond dengan mengelilingi sekitar bumi perkemahan.

Anis dan teman-temanya sempat berdiskusi apakah harus melakukan survey dengan keadaan hujan atau harus menunggu hujan berhenti.

“ini gimana ? kalo kita nunggu hujan kemaleman.. rawan juga nanti kalo malem kita nyari jalur” ucap salah seorang.

“yaudah,, kita ke jalur nunggu agak reda aja.. ini masih deres kok” jawab Anis

Ketika hujan agak reda tepat jam 15.00, sekitar 7 orang dengan formasi 4 laki-laki Anis, Junet, Reza, Ocad dan 3 perempuan Ayuk, Maya, dan Lia.

Mereka bersiap untuk melakukan survey jalur, ketika mereka sudah mempersiapkan segalanya Anis masih menimbang apakah melakukan survey dengan dampingan guru atau tidak.

Anis sempat bertanya kepada guru pembina dan sempat dilarang apabila mereka melakukan survey jalur tanpa dampingan guru. Akhirnya dicarilah salah seorang guru bernama Pak Anto untuk menemani ketujuh orang melakukan survey jalur outbond.

Total 8 orang yang akan melakukan survey jalur, mereka berjalan keatas berbekal jas hujan yang mereka pakai, mereka mulai berjalan melewati pematang sawah dan hutan yang cukup lebat.

Berjalan sekitar 30 menit, udara semakin dingin dengan hujan yang masih sesekali turun dengan deras. Kabut mulai turun dan membuat beberapa dari mereka menggigil, tak lama salah seorang bernama Ayuk tiba-tiba merasakan lemas dan pusing bahkan tidak mampu untuk berjalan.

Pak Anto yang tidak tega melihat Ayuk meminta Anis menghubungi panitia yang ada dibasecamp dengan sebuah HT untuk membawakan sebuah tandu untuk mengevakuasi Ayuk turun dan membawakan HT baru karena HT yang dibawa saat itu tidak bisa bertahan lama dengan daya batrei yang tersisa.

Datanglah 5 orang untuk menjemput Ayuk, ketika mereka sudah menaikkan Ayuk ke tandu dan bersiap turun.

“eh ada yang gantiin Ayuk dong, kamu aja Yun biar gak ganjil” ucap Junet yang meminta Yuni menggantikan Ayuk

Yuni mengiyakan dan menggantikan Ayuk melanjutkan survey jalur pada hari itu.

Waktu terus berjalan, hari semakin gelap ditambah cahaya matahri yang tertutup awan mendung. Mereka tersadar tidak membawa senter sebagai sumber cahaya waktu itu, bahkan GPS ataupun Maps yang seharusnya mereka bawa tertinggal di basecamp.

Dari awal dalam pemikiran mereka jalur yang akan mereka lewati tidak jauh dan tidak memakan waktu yang lama. Mereka tidak berfikir apa yang sebenarnya akan ada didepan mereka

Walaupun sebenarnya Anis dan beberapa panitia sudah melakukan survey seminggu sebelumnya namun dengan kondisi yang berbeda. Ditambah Ayuk yang ketika itu sakit, membuat waktu mereka terbuang untuk menunggu evakuasi dari bawah.

Singkat cerita, mereka tetap berusaha untuk melanjutkan pencarian jalur dan akhirnya menemukan beberapa tempat yang dirasa cocok untuk otbound.

Mereka menandai semua tempat dengan batu dan tongkat agar mudah mengingat, dan memang di setiap perjalanan yang mereka lewati selalu menandai dengan rafia dan tanda panah ketika menemui persimpangan jalan.

Namun saat itu, Anis dan Ocad merasa bahwa jalur yang mereka lewati bersama yang lain agak berbeda dari seminggu yang lalu ketika melakukan survey.

Anis dan Ocad mencoba berfiikir positif bahwa jalur yang mereka lewati adalah jalur yang sebenarnya hanya nampak berbeda karena kondisi jalur yang gelap.

Keanehan muncul ketika Anis mencoba menghubungi panitia yang ada dibasecmap dengan HT yang dibawanya, HT tidak berfungsi padahal indicator batrei masih dalam keadaan penuh. Anis masih mencoba mengotak-atik HT dan berusaha menghubungi panitia lain.

Sempat terhubung namun setiap kata yang anis ucapkan HT itu mati dengan sendirinya. Anis masih mencoba berfikir positif, mungkin karena hujan membuat HT tidak berfungsi normal, apalagi posisi ditengah hutan membuat HT tidak bisa menangkap sinyal secara sempurna.

Tepat sebelum maghrib, sekitar jam 17.30 sampailah mereka di sebuah lapangan terbuka. Disinilah Anis merasa lega, Anis teringat ketika survey seminggu sebelumnya dia sempat tiba di lapangan terbuka itu namun dari arah sebaliknya.

Mereka memutuskan untuk beristirahat dan melaksanakan sholat. Selesai sholat, mungkin karena udara yang cukup dingin dan baju mereka yang basah karena hujan.

Maya merasakan hal yang sama seperti Ayuk, Maya merasakan badannya lemas, pusing, bahkan sekujur tubuhnya gemetar dan wajah yang nampak pucat.

Junet dan beberapa orang lain mencoba membantu Maya agar tidak bertambah parah, sementara Anis dan Ocad mencari jalur yang pernah mereka lewati seminggu sebelumnya.

Anis dan Ocad mencari jalur karena ada dua cabang jalan dan memastikan jalur mana yang benar menuju jalan keluar kearah jalan raya.

Anis berdiskusi dengan Ocad untuk meyakinkan jalur mana yang benar. Anis kemudian teringat ketika survey pertama kali, dari arah sebaliknya atau bisa dibilang dari arah masuk jalan raya.

Dia berjalan menyusuri jalan setapak seperti jalur petani yang menembus ke pematang sawah, jalur petani itulah yang ujungnya adalah lapangan dimana mereka berada saat itu.

Ketika mereka berdua mencoba jalur pertama, Anis menemukan jalur setapak yang mirip dengan jalur dari arah jalan raya.

Anis dan Ocad segera menyusuri jalan itu, mereka terus berjalan dan anehnya bukannya menembus pematang sawah, lama kelamaan semak belukar semakin lebat dengan Anis yang masih berusaha menembus semak belukar dengan kedua tangannya.

Namun apa dikata, beberapa langkah kemudian Anis dan Ocad merasa semak belukar semakin lebat bahkan kedua tangannya sudah tidak sanggup untuk menebas semak belukar.

Mereka berdua merasa ada yang janggal dengan jalur itu karena logika mereka berkata jalur ini tidak mungkin dilewati manusia, seperti sudah beberapa tahun tidak dilewati.

“ki kok koyoe buntu yo cad, padahal kan iki setapak pas wingi dewe lewat“
(ini kok kyaknya buntu ya cad, padahal kan ini jalan setapak pas kemarin kita lewat) ucap Anis sembari melihat sekelilingnya.

“iyo e.. aku yo ngroso ngono ki to.. wes fix iki buntu.. mbalik wae malah wedi aku”

(iya,, aku juga ngrasa gitu, udah nih fix jalan buntu, udah kita putar balik aja malah takut aku) jelas Ocad yang ternyata merasakan hal yang sama dengan Anis.

Pada saat itu, Anis merasakan hal sangat janggal dengan jalan yang dilewatinya. Padahal dia benar-benar ingat dimana jalan itulah yang menuju kearah jalan raya.

Bahkan disaat Anis mencoba membuka semak belukar, bulu kuduknya sempat berdiri beberapa kali, apalagi ketika dia melihat semak belukar yang menjulang tinggi melebihi tubuhnya.

Anis dan Ocad kembali kearah lapangan terbuka dan memberitahu yang lain bahwa jalan pertama buntu dan tidak ada jalan keluar karena tertutup semak belukar.

Yuni dan Lia yang mendengar kabar dari Anis sontak menangis. Mereka meyakini bahwa saat itu benar-benar tersesat dan tidak bisa kembali ke bumi perkemahan. Pak Anto tak tinggal diam, dia mencoba menenangkan dan meyakinkan bahwa pasti akan ada jalan keluar menuju perkemahan.

Bingung dan takut, itulah yang dirasakan Anis saat itu karena jalan yang ia yakini menuju jalan keluar ternyata hanyalah jalan buntu, apalagi HT yang ia bawa sudah benar-benar tidak berfungsi yang sebenarnya berguna menghubungi panitia lain untuk meminta petunjuk jalan.

Mereka sempat berdiskusi antara kembali ke jalur sebelumnya atau memilih jalur kedua. Akhirnya Pak Anto memutuskan untuk berjalan menyusuri jalur kedua dengan pertimbangan apabila melewati jalur sebelumnya akan memakan waktu yang cukup lama.

“dah kita lewat jalur mobil aja.. Cuma itu jalan yang kearah bawah ” jelas Pak Anto mencoba menenangkan yang lain.

Memang di jalur kedua dianggap sebagai jalur mobil karena mereka melihat bekas galian ban mobil, dan adanya dua jalan beton yang ditengahnya terbelah oleh tanah yang dipenuhi rerumputan.

Tetapi jalur ini bukan jalan menuju bumi perkemahan, melainkan jalan yang menembus ke desa lain dan dari 8 orang belum pernah ada yang melewati jalur ini.

Anis dan yang lain mengiyakan pilihan Pak Anto, dalam logika mereka saat itu akan menemukan rumah warga ketika memilih jalan turun.

Mulailah langkah demi langkah berjalan beriringan, dua didepan yaitu Pak Anto dan Ocad, 5 orang ditengah Maya, Lia, Yuni, Anis, Reza, dan Junet berada paling belakang.

Mulai muncul rasa was-was, apalagi 3 perempuan lain Lia dan Yuni yang sudah terlihat pucat karena takut tidak menemukan jalan keluar ditambah Maya yang kondisinya semakin memburuk.

Anis dan yang lain mencoba menghibur ketiga perempuan dengan bernyanyi sekeras mungkin dan melempar candaan agar mengalihkan rasa takut mereka sembari berharap ada yang mendengar suara mereka dari kejauhan.

Berjalan sekitar 30 menit dengan nyanyian dan candaan yang selalu mereka lontarkan, tiba tiba Junet yang berada paling belakang meremas bahu Reza yang berada persis didepannya.

Langkah Reza sontak terhenti..
“ngapa Jun ?“ tanya Reza yang terkejut dan seketika menatap Junet seperti kebingungan mencari sesuatu di sekelilingnya.

“wes rapopo rapopo, ndelok ngarep wae ndelok ngarep wae” (udah gakpapa, lihat depan aja) jawab Junet ketakutan.

Junet dan Reza melanjutkan langkah mereka dengan Reza yang masih kebingungan kenapa Junet meremas bahunya secara tiba-tiba. Tak lama berselang, giliran Anis yang melihat tingkah aneh Junet.

Junet berjalan tersendat seperti ada sesuatu yang menghalangi di sela-sela kakinya bahkan sempat membuatnya terpleset beberapa kali.

“Kowe ngopo e Jun ?, loro po ?”
(kamu kenapa jun ? sakit po ?” tanya Anis kepada Junet

“orak kok oraak.. orapopo orapopo”
(enggak kok enggak.. gakpapa gakpapa) jawab Junet dengan posisi kepala kebawah seperti tidak ingin menatap arah depan.

“wes wesss nis,, lanjut wae ojo ndelok mburi”

(udah udah nis, terus aja gak usah lihat belakang) Reza yang mencoba meyakinkan Anis.

Reza merasa bukan hanya dia yang menganggap tingkah aneh Junet, apalagi ketika melihat Anis yang tersadar dengan langkah kaki Junet yang tersendat beberapa kali.

Dalam perjalanan itu, Reza sempat menduga-duga kenapa Junet bertingkah seperti itu.

Puncaknya, Reza teringat sebuah obrolan dikantin SMA bersama seorang Junet. Reza ingat betul Junet pernah bercerita bahwa dia punya keistimewaan dalam penglihatannya.

Disinilah Reza mulai mengerti kenapa Junet bertingkah aneh, namun Reza tidak berani menanyakan apa yang sebenarnya Junet lihat pada saaat itu, apalagi masih berada ditengah hutan dan masih mencari jalan keluar.

Mereka terus berjalan turun dan muncul sebuah harapan ketika Anis melihat sebuah titik cahaya dari kejauhan.
“ weh itu ada lampu pak. Itu kayaknya rumah warga”

Langkah kaki mereka semakin cepat menuju arah cahaya itu, namun anehnya ketika mereka terus berjalan menuju titik cahaya mereka merasa titik cahaya itu semakin lama semakin jauh dan jalan yang mereka lewati seperti tidak berujung.

Anehnya lagi, bukannya vegetasi semakin berkurang. Malah sebaliknya, vegetasi disekitar semakin lama semakin lebat seperti mengarah kembali ke hutan.
Namun mereka tetap terus berjalan dan yakin akan menemukan sebuah rumah.

Terus berjalan dan akhirnya harapan untuk menemukan pemukiman menjadi kenyataan ketika mereka melihat sebuah rumah atau bisa dibilang satu-satunya rumah tepat dimana mereka bertemu dengan sebuah jalan bercabang.

Ada dua jalan kearah kiri dan lurus, dan rumah yang mereka lihat adalah menuju arah kiri.

Tanpa pikir panjang mereka langsung mengambil jalur kiri untuk menuju arah rumah itu , dengan melihat kondisi mereka yang sudah lelah dan baju yang lembab karena hujan sepanjang perjalanan.

Pak Anto berinisiatif untuk mengetuk rumah dengan tujuan meminta air dan meminta izin beristirahat sejenak dirumah tersebut.

Legaa….
Menemukan sebuah rumah setelah berjalan tak tentu arah dan kejanggalan-kejanggalan yang dialami.

Akhirnya mereka bisa mengistirahkan badan, dan bisa membersihkan badan sembari membuang hajat yang sudah mereka tahan beberapa jam.

Akan tetapi disinilah sebenarnya puncak dari perjalanan mereka..

Diketuklah pintu rumah itu, tak lama keluarlah seorang ibu-ibu berkerudung, berperawakan kurus dengan menggendong seorang bayi dan dua anak kecil yang mengikuti sang ibu dari dalam rumah.

Semua terlihat normal dan tanpa keanehan apapun. Dari bentuk rumah terlihat normal bahkan hampir mirip rumah biasanya, dari perawakan sosok ibu sang pemilik rumah juga benar-benar biasa saja karena tidak ada rasa curiga sedikitpun pada saat itu.

Hanya saja rumah itu memang berada agak jauh dari pemukiman padat dibawahnya, rumah itu berada dibatas vegetasi dan rumah itu adalah rumah satu-satunya yang berada disana.

Pak Anto menemui sang ibu dan menjelaskan bahwa mereka sempat tersesat dan meminta izin untuk beristirahat sejenak. Sang ibu mempersilahkan dan mereka semua duduk diteras rumah tekecuali Junet yang duduk terpisah dan menjauh dari yang lain.

Berselang beberapa menit, sang ibu keluar dari dalam rumah sembari membawa nampan berisi 8 cangkir kopi dan sebuah toples biscuit.

Ketika mereka menikmati hidangan kopi dan biscuit itu dengan lahap. Anis meraskan kenikmatan kopi yang ia minum, sangat nikmat dengan manis yang pas, bahkan ia merasa kopi itu seperti menjadi energi dari badannya yang lelah setelah perjalanan yang cukup panjang.

Walaupun saat itu sempat terbesit pikiran keheranan dengan biscuit yang ia makan, karena didalam kaleng itu tidak ada biscuit yang utuh, hanya terdapat potongan-potongan biscuit didalamnya.

“zaaa.. biscuit e remuk kabeh i to wkwkwkw“

(zaaa, biskuitnya hancur semua yaa wkwkwk)

“iyo I aku yo mikir kuwi…. kayake mergo anake deh”

(iya tuh aku juga mikir itu, kayaknya karena anaknya deh) Candaan yang terlontar dari Anis kepada Reza tentang biscuit itu.

Sempat ada obrolan antara Pak Anto dan sosok ibu itu, bahkan si ibu sempat menanyakan datang darimana dan bertanya kenapa bisa tersesat didalam hutan.

Obrolan itu berlanjut hingga Pak Anto bertanya dimanakah sang suami berada, karena memang dari pertama datang hingga kopi yang semakin lama semakin berkurang tidak melihat sang suami.

“Bapak teng pundi nggih bu ? kok kulo dereng sumaos”

(bapak dimana ya bu ? kok saya belum lihat daritadi?)

“ohh.. bapak nembe teng masjid pak.. isya’ teng masjid”

(ohh bapak lagi dimasjid pak, isya’ dimasjid)

Begitulah penuturuan sosok ibu ketika ditanya dimana suaminya berada

Disisi lain Reza,Ocad an Anis melihat tingkah Junet yang semakin aneh, Junet seperti memikirkan sesuatu dan lebih sering menujukkan tatapan kosong.

Junet tidak mau meminum kopi yang sudah disuguhkan, bahkan dia seperti menolak menatap kearah teman-teman lain tepatnya kearah rumah.

Sempat dipaksa namun Junet tetap menolak dan lebih memilih tidur di sebuah tangga rumah. Sempat ada kecurigaan, namun Reza meyakinkan yang lain bahwa Junet hanya kelelahan karena perjalanan tadi.

Walaupun pada saat itu, Reza sempat berfikir apakah ada sesuatu dari rumah dan sosok sang ibu yang menolong mereka. Tetapi, Reza lebih memilih berfikir positif dan tidak akan menduga yang tidak-tidak.

Memang setelah kejadian dimana Junet meremas bahu Reza, Junet lebih sering diam dan ketika mereka menemukan sebuah rumah tidak ada raut ekspresi senang dari wajahnya.

Berbanding terbalik dengan yang lain, bahkan seorang Pak Anto yang dikenal tegas pun kegirangan karena berhasil menemukan rumah setelah tersesat didalam hutan.

Jam menunjukkan pukul 20.30…

Pak Anto meminta izin kepada sang ibu dan berterima kasih sudah diberi tumpangan dan segala sajian yang diberikan. Anis dan yang lain berpamitan dan sempat mencium tangan sang ibu sebelum pergi dari rumah tersebut.

“net net tangi net ayo balii ”
(net net bangun ayoo pulang)
Reza mencoba membangunkan Junet yang tertidur pulas disebuah tangga rumah.

Reza heran dengan tingkah Junet, Junet yang seketika terbangun dari tidurnya tidak mau berpamitan dengan sang ibu. Junet memilih langsung pergi dan tidak mau melihat kearah rumah sama sekali.

Bahkan dia meninggalkan secangkir kopi yang masih utuh walaupun Anis yang melihat kopi Junet langsung meminum habis kopi itu tanpa tersisa sedikitpun.

Mereka berpamitan dan berjalan menuju pemukiman dengan menyusuri jalan setapak, energi yang semula hilang sudah terisi dan kebahagiaan menyelimuti mereka semua.

Berjalan beberapa meter, mereka berpapasan dengan seorang bapak-bapak yang mengarah menuju rumah sang ibu.

“monggo pak”

“monggo…monggo..”

Disitu, beberapa dari mereka sempat berfikir bahwa bapak-bapak itu adalah suami dari sang ibu, karena arah dimana sosok bapak itu berjalan adalah arah dimana hanya ada satu rumah yaitu rumah sang ibu berada.

Berjalan langkah demi langkah, Ocad yang berada paling belakang sempat terkejut melihat sebuah lumbung yang mirip dengan lumbung dibelakang pendopo basecamp.

Saat itu Ocad melihat dengan jelas lumbung yang hampir sama, namun anehnya didepan lumbung terdapat topeng berwujud leak dengan taring dan hiasan bulu yang panjang. Bukan hanya satu topeng, namun terdapat puluhan topeng berjejer dilumbung itu.

Ocad yang berada paling belakang kebingungan, dia melihat teman-teman yang lain seperti tidak melihat lumbung itu, bahkan menolehpun tidak sama sekali.
Ketika dia berhenti sepersekian detik untuk mengamati lumbung, dia ditegur oleh Pak Anto karena menghentikan langkahnya.

Ketika mereka sudah memasuki menuju pemukiman. Anis teringat dengan HT yang sudah tidak berfungsi diperjalanan tadi. Anis mencoba menyalakan HT dan betapa kagetnya HT berfungsi dengan normal, tidak ada gangguan sedikitpun.

Bahkan saat itu Anis berhasil menghubungi panitia yang ada dibasecamp dan meminta jemputan tepat disebuah jalan besar. Anis bertanya-tanya kenapa HT tiba-tiba berfungsi, padahal saat perjalanan HT tidak bisa dihidupkan.

“ah sudahlah.. yang penting sampai basecamp” begitulah kalimat yang bisa diungkapkan saat itu.

Singkat cerita, 7 orang yaitu Anis, Ocad, Junet, Reza, Yuni, Maya dan Lia diberikan kelonggaran untuk tidak ikut acara hari ke-2, mereka diminta beristirahat karena tenaga yang cukup terkuras dihari sebelumnya.

Siang harinya, Anis yang sudah turun dari pemukiman terkejut mendengar kabar Yuni, Maya dan Lia air matanya pecah hingga membuat Maya hampir jatuh pingsan.

Anis mencoba menanyakan apa yang sebenarnya terjadi, usut punya usut. Malam sebelumnya setelah mereka sampai di basecamp, Pak Anto memberi kabar kepada kepala sekolah dan beberapa guru bahwa sempat tersesat ketika melakukan survey jalur outbond.

Pak Anto juga menjelaskan bahwa mereka menemukan rumah dengan ibu yang memberi tumpangan dan sempat memberi makan dan minum.

Mendengar kabar itu, kepala sekolah dan beberapa guru berinisiatif untuk mengucapkan terima kasih sudah menolong beberapa siswanya yang tersesat. Mereka mencoba mendatangi rumah sang ibu sesuai dengan arahan Pak Anto.

Setelah mencoba mendatangi rumah sang ibu, kepala sekolah dan beberapa guru mendatangi bumi perkemahan dan kebetulan bertemu dengan Yuni, Maya, Lia, dan Pak Anto yang sedang berkumpul dipendopo.

Disitulah muncul sebuah pertanyaan besar “Pak Anto, yakin ketemu rumah sama ibu yang diceritain semalem?” tanya salah seorang guru.

“yakin paak.. kita kemarin ketemu sama rumah, saya sama anak-anak juga ketemu ibu yang saya ceritain pak” jawab Pak Anto meyakinkan kesaksiannya.

“emang kenapaa bu ? kita bener-bener ketemu kok” tanya Lia dengan raut wajah kebingungan.

Disitu sang guru menjelaskan bahwa ketika mencoba mendatangi rumah sang ibu, ternyata titik rumah yang dimaksudkan Pak Anto hanya sebuah tanah lapang dan beberapa pohon.

Bahkan sang guru sempat menanyakan kepada warga sekitar dan memang tidak ada rumah sama sekali. Salah seorang warga juga menjelaskan bahwa daerah itu sangat jarang dilalui warga.

Karena pada dasarnya daerah itu bukanlah jalan utama warga karena dibelakang tanah lapang itu langsung berbatasan dengan hutan.

Yuni, Maya, dan Lia yang mendengar cerita dari sang guru sontak menangis bahkan Maya sangat histeris karena tidak menyangka jika apa yang dilihatnya bukanlah sesuatu yang nyata.

Pak Anto yang tidak percaya kemudian kembali lagi kerumah yang ia satroni malam itu.
Ketika berjalan dengan jalan yang sama malam itu, ketidakpercayan Pak Anto seketika buyar ketika titik dimana rumah itu berada benar-benar hanya sebuah tanah lapang.

Pak Anto sempat shock dengan apa yang dilihatnya, namun Pak Anto mencoba mencari informasi tentang rumah sang ibu.

Ternyata, pernah ada cerita dimana seorang ustadz diminta untuk mengisi pengajian oleh seorang ibu-ibu dititik alamat yang sama. Saat sang ustadz mendatangi rumah itu, sesampainya disana sang ustadz hanya menemui sebuah tanah lapang 🙂

Berjalan beberapa hari setelah kemah dilakukan, cerita tentang rumah dan ibu misterius menjadi bahan pembicaraan dikalangan semua siswa.

Anis, Ocad, Reza yang langsung mengalami hal itu masih antara percaya dan tidak percaya. Karena apa yang mereka lihat dan apa yang mereka makan benar-benar nyata.

Yuni, Maya, dan Lia bahkan tidak mau berkomentar apapun saat itu karena takut dan trauma dengan apa yang mereka alami.

Namun, Reza dan Ocad yang memang paling dekat dengan Junet sempat menanyakan kepada Junet yang memang punya kelebihan. Dari pembicaraan mereka berdua, Junet tidak mau membicarakan soal rumah dan ibu yang mereka temui saat itu.

Junet berkata bahwa dari awal perjalanan memang terasa aneh, apalagi setelah Ayuk sakit perjalanan terasa berbeda dengan cuaca yang ekstrim dan jalan yang nampak berbeda.

Junet juga bercerita, ketika dia meremas tangan Reza. Junet melihat sesosok leak besar berwarna warna hitam yang sempat lewat didepannya, yang membuat badanya agak oleng dan sempat terjatuh hingga meremas tangan Reza.

Sosok leak ini sama dengan topeng yang dilihat Ocad di lumbung sepulangnya dari rumah sang ibu. Dan setelah itu, Junet merasa ada sesosok hitam yang selalu mengikutinya dan sempat memberi arah jalan mana yang benar.

Ocad dan Reza yang mendengar cerita dari Junet sempat mengaitkan sosok hitam dengan sosok rumah dan ibu yang mereka temui. Tetapi itu hanyalah sebuah dugaan, dan tak lama berselang mereka berdua bertemu dengan Anis dan menceritakan semua kesaksian Junet.

Anis mempunyai pertanyaan besar dalam benaknya, apalagi setelah mendengar cerita dari Reza dan Ocad.
Kemudian Anis teringat dengan tetangganya yang memang dianggap orang sakti, sebut saja Pak Roni.

Anis menemuinya dan menceritakan semua yang dialami ketika melakukan kemah. Pak Roni memejamkan mata dan kemudian menjelaskan apa yang sebenarnya Anis temui.

Pak Roni menjelaskan,bahwa sebenarnya Anis dan teman-temannya sudah diberikan peringatan dari awal. Dari kejadian suara kaki di pendopo, cuaca yang tiba-tiba berubah, dan juga ketika Ayuk sakit sebenarnya memperingatkan agar tidak melanjutkan perjalanan.

Namun disitu Pak Roni juga menjelaskan bahwasanya Junet berperan penting ketika mereka melakukan perjalanan survey jalur saat itu. Bisa dibilang Junet mengerti jika mereka diarahkan menuju rumah tersebut.

Dan sebuah rumah dan sosok ibu yang ditemui Anis sebenarnya adalah penyelamat mereka dan memang apa yang dilihat mereka hanya halusinasi semata. Sosok ibu itu sebenarnya adalah sosok hitam yang mengikuti Junet setelah melihat sosok leak.

Sosok hitam itu tepatnya bersemayam di sebuah pohon besar tepat berada ditanah lapang itu.

Pertanyaan Anis paling besar adalah apa wujud sebenarnya kopi yang ia minum dan biskuit itu ?

Jawaban yang cukup mencengangkan dari Pak Roni.
Pak Roni menjelaskan bahwa kopi yang ia minum sebenarnya adalah air kotoran yang berwarna hitam pekat (air peceren), dan biskuit itu adalah potongan serbuk kayu.

Anis masih belum percaya dengan penjelasan Pak Roni. Karena pada saat itu, Anis merasa kopi yang dia minum benar-benar menambah energi yang hilang. Bahkan Anis masih ingat dengan rasa dan after taste dari kopi tersebut.

Akan tetapi, dari penjelasan Pak Roni soal biscuit yang disuguhkan. Anis merasa sesuai dengan apa yang dilihat saat itu, karena ketika Anis memakan biscuit tersebut semua biscuit hanya terdapat potongan kecil dan tidak ada biskuit yang utuh.

Logika Anis berkata, kemungkinan dalam sebuah toples biskuit seharusnya ada satu atau dua buah biskuit yang utuh. Akan tetapi didalam toples tersebut, semua biskuit berbentuk potongan kecil. Tidak hanya Anis, Reza juga merasakan hal yang sama saat itu.

Memang cerita dari Anis masih banyak pertanyaan yang belum terjawab hingga saat ini. Apalagi yang menjadi pertanyaan apa yang sebenarnya dilihat Junet saat itu ketika bertemu dengan sosok rumah dan sang ibu.

Apabila dilihat dari tempat yang digunakan untuk kegiatan kemah, konon dulunya adalah tempat para danyang dan sering digunakan sebagai ritual tertentu.

Dan konon katanya, dulu ada orang sakti yang pernah berencana akan mengubah tempat itu sebagai sesuatu yang besar namun urung dilakukan karena sudah diketahui orang lain.

Pengalaman Anis yang sudah terjadi sejak 7 tahun yang lalu ini sangat membekas dalam benaknya. Tapi anehnya, terakhir kali ia bertemu dengan Pak Roni. Komunikasi dengan kedelapan orang seperti terputus secara alami, entah sebuah kebetulan atau memang sesuatu yang direncanakan.

Bahkan seorang Junet yang baru-baru ini berusaha dihubungi untuk menjelaskan hal itu tidak pernah merespon sama sekali. Hanya Ocad dan Reza yang mau membagikan dan mencoba flashback dengan kejadian 7 tahun yang lalu.

Sama dengan Junet, ketiga perempuan Yuni, Maya dan Lia juga tidak merespon ketika Anis mencoba mengajak mereka untuk bercerita kembali.

Apalagi seorang Pak Anto yang bahkan sekarang tidak tahu dimana keberadaanya, karenakan beberapa tahun lalu sudah berpindah kerja ketempat lain.

Semoga cerita dari Anis bisa menjadi sebuah pembelajaran untuk kita semua. Mohon maaf bila ada salah kata maupun perkataan yang kurang berkenan.


@ukmpengamatan

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Admin IRC
Written by
Admin IRC
Join the discussion